
Dengan semangat transformasi pendidikan nasional, SDIT Miskawaih di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, secara proaktif mengadopsi Kurikulum Merdeka. Untuk memastikan implementasi yang optimal, sekolah ini menggandeng pakar pendidikan sekaligus Wakil Ketua III STIT Assaidiyyah, Fikri Zauharul Firdaus, M.Pd., dalam serangkaian lokakarya dan pendampingan bagi para guru.
Langkah kolaboratif ini bertujuan untuk mentransformasi paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa, selaras dengan esensi Kurikulum Merdeka.
Mengapa Kurikulum Merdeka Penting?
Implementasi Kurikulum Merdeka di SDIT Miskawaih didasari oleh keinginan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih fleksibel, fokus pada materi esensial, dan memberikan ruang bagi pengembangan karakter serta kompetensi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.
Fikri Zauharul Firdaus, M.Pd., yang memiliki kepakaran di bidang pengembangan media ajar digital dan literasi sains, menekankan bahwa Kurikulum Merdeka bukanlah sekadar perubahan administratif.
“Ini adalah perubahan mindset. Kita tidak lagi mengejar ketuntasan materi, tetapi memastikan setiap anak mengalami proses belajar yang mendalam dan bermakna. Guru berperan sebagai fasilitator yang memantik rasa ingin tahu siswa, bukan hanya sebagai sumber informasi tunggal,” jelas Fikri dalam salah satu sesi workshop.
Strategi Implementasi di SDIT Miskawaih
Di bawah bimbingan Fikri Zauharul Firdaus, para guru di SDIT Miskawaih dibekali dengan beberapa strategi kunci untuk menyukseskan Kurikulum Merdeka:
- Pembelajaran Terdiferensiasi: Guru dilatih untuk merancang proses pembelajaran yang mampu melayani keragaman kemampuan siswa dalam satu kelas. Ini dilakukan dengan menyediakan konten, proses, dan produk belajar yang bervariasi, sehingga setiap siswa dapat belajar secara optimal sesuai dengan tingkat kesiapannya.
- Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): Sebagai Sekolah Dasar Islam Terpadu, P5 diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman. Para guru dibimbing untuk merancang projek-projek kontekstual, seperti tema “Gaya Hidup Berkelanjutan” yang diwujudkan melalui kegiatan mengelola sampah di lingkungan sekolah sesuai ajaran Islam tentang kebersihan.
- Pemanfaatan Teknologi Digital: Sejalan dengan keahliannya, Fikri mendorong pemanfaatan platform digital untuk menciptakan bahan ajar yang interaktif. Guru diajak untuk mengembangkan modul ajar digital, video pembelajaran singkat, dan kuis interaktif untuk menjadikan belajar lebih menarik.
- Asesmen Formatif yang Menguatkan: Penekanan beralih dari asesmen sumatif (ujian akhir) ke asesmen formatif. Guru dilatih untuk memberikan umpan balik yang konstruktif secara berkala selama proses pembelajaran, sehingga siswa dapat langsung memperbaiki pemahamannya.
Integrasi Nilai Islam dan Sains
Salah satu fokus utama pendampingan oleh Fikri adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pembelajaran sains secara holistik dalam kerangka Kurikulum Merdeka.
“Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan luar biasa untuk inovasi. Di SDIT Miskawaih, kita bisa menghubungkan konsep-konsep sains, misalnya tentang ekosistem, dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas keseimbangan alam. Ini tidak hanya membangun kompetensi, tetapi juga memperkuat iman dan karakter siswa,” tambahnya.
Melalui pendampingan intensif ini, SDIT Miskawaih bertekad untuk menjadi salah satu model implementasi Kurikulum Merdeka yang berhasil, melahirkan generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, kritis, mandiri, dan berakhlak mulia sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila dan nilai-nilai luhur Islam.
No responses yet